Jangan Main-main dengan Murka Seorang Ibu

ibu sedih tips parenting ayah bunda anak buah hatiIni mungkin terlihat seperti sinetron, atau bahkan kisah yang melegenda Malin Kundang dalam versi mikro. Tapi memang ini kejadian nyata yang kualami. Semoga jadi pelajaran buat kita semua.

Ketika Jenuh Datang

Awal tahun ini, ibuku sering sakit-sakitan. Walau pun sakitnya sebenarnya tidak terlalu parah, hanya flu dan demam, tetapi kadang terasa agak manja. Rumahku berjarak sekitar 9 KM dari rumah orang tuaku. Dan selama sakit, dia sering memanggilku ke rumahnya. Di sana aku diminta merawatnya. Mulai dari belikan makan yang dia suka, buatkan makanan, buatkan minuman, atau hal-hal lain.

Baca juga : Rahasia anak pintar ternyata sederhana

Awal-awalnya semua kulakukan dengan senang hati. Tapi lama kelamaan, sifat manusiaku muncul juga. Aku jenuh. Karena Ibu sakitnya ini seperti nggak berbatas waktu, sudah hampir 2 bulan ya progressnya begitu-begitu saja. Di satu sisi bagaimana bisa sembuh? Makan saja tidak mau, apalagi makan obat, diajak ke dokter apalagi, tidak mau. Jadinya seperti sakit tanpa jelas bagaimana bisa sembuhnya. Lama-lama aku jadi berpikir Ibu ingin dimanja saja oleh anak lelakinya ini. Bapak sendiri sudah nyerah, dan agak malas juga mengurus ibuku.

Sampai suatu ketika… Aku sedang jenuh-jenuhnya. Malam itu, aku istri dan kedua anakku sedang berkunjung ke sebuah mall. Lalu ada telepon dari ibuku. Di ujung sana dia bertanya kenapa aku tidak ke sana (kerumah orang tuaku). Dengan agak sedikit kikuk aku cari alasan ini itu. Akhirnya dengan sedikit kecewa, ibu menerima alasanku. Walau tidak marah, namun aku bisa membaca kekecewaannya. Dia hanya berkata, “Ooo, ya udah kalau tidak bisa kesini”.

Setelah itu hatiku mulai diliputi kegelisahan dan rasa bersalah. Walau nafsuku+syetan mencoba membantu dan “membenarkan” langkahku itu dengan alasan, aku sudah terlalu banyak berbuat untuk ibuku. Bersenang-senang sekali-kali boleh dong. Dan akhirnya setelah itu kami pulang ke rumah.

Balasan Ketika Membuat Ibu Kecewa

Malam itu mendung. Dan sesampainya di rumah, hujan mulai turun. 1 menit, 2 menit, setengah jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam. Hujan tak kunjung berhenti. Bahkan makin deras. Di sinilah mulai terjadi ketakutanku. Mengingat perumahanku adalah langganan banjir. Bolak-balik ku lihat ke depan, air terus meninggi, meninggi dan semakin tinggi. Lapangan sudah tertutup air, jalanan sudah full tergenang air. Akhirnya aku bangunkan istriku yang tertidur dan meminta sesegera mungkin packing untuk mengungsi.

Baca juga : Ternyata ini rahasia sederhana membuat anak pintar 

Secepat kilat istriku membenahi pakaian. Aku coba mengangkat barang-barang agar berada di posisi aman. Setelah semua siap, anak-anak yang sedang tertidur, aku angkat ke mobil. Dan kami pun keluar rumah dalam keadaan hujan yang tak ada tanda-tanda reda. Perjalanan “membebaskan diri” dari banjir pun menegangkan. Jalanan-jalanan tertutup air sangat tinggi. Tidak jarang aku rasakan knalpot mobil sudah tertutup air. Aku hanya berdoa agar mobil ini tak mati di tengah banjir. Sebab jika mati, justru menjadi sebuah pilihan yang buruk daripada kita tetap tinggal di rumah walau banjir.

Beberapa kali jalanan rendah aku terjang, bahkan hingga plat mobil hilang entah kemana, dan lampu kabut kemasukan air. Setelah perjalanan yang ekstra menegangkan, kami bisa “bebas” dari perumahan tempat kami tinggal. Segera kami menuju rumah orang tuaku yang hanya beda satu kecamatan dan berlokasi di sebuah kampung (yang insya Allah bebas banjir).

Sesampai di sana ibu sudah menungguku dengan pandangan sayang. Kamar untuk kami pun sudah disiapkan (sebelumnya aku sudah memberi kabar kalau mau mengungsi ke sana). Dan akhirnya, malam itu aku “tetap harus ke rumah orang tuaku”. Cuma kini dengan kondisi yang penuh kepayahan.

Sejak itu aku jadi makin “takut” melanggar perintah ibu, selama perintah itu tak bertentangan dengan Allah swt dan Rasul-Nya. Ternyata Allah swt, punya cara tersendiri “menghukumku”. Aku malas ke rumah orang tua merawat ibu yang sakit, ujung-ujungnya aku tetap harus ke sana, seperti dipaksa ke sana. Keesokannya aku dan istri coba main ke rumahku (anak-anak masih di rumah orang tua). Dan benar memang kemarin rumah kami terendam air hingga beberapa belas sentimeter. Kalau di dalam rumah kami sudah setinggi itu, biasanya di lapangan dan jalanan bisa sepinggang banjirnya. Dan sepanjang banjir memang semua aktivitas sangat terganggu.

Jangan pernah main-main dengan murka ibu / orang tua. Sebab durhaka kepada orang tua adalah dosa yang “disegerakan” hukumannya di dunia (selain balasan di akhirat). Itu ibu hanya sedikit kecewa pada saya, maka bagaimana jika seorang ibu bisa sampai “bersumpah” karena saking kecewanya pada kita. Berhati-hatilah.

Berbakti Kepada Orang Tua “Harus Diajarkan”

Dan jika kita adalah orang tua, ajarilah anak-anak sedari kecil untuk berbakti kepada orang tua. Ya ! Berbakti kepada orang tua itu harus diajarkan dan didoktrinkan. Jangan terlalu berharap keajaiban mereka akan tahu sendiri hal ini di luar sana. Berapa banyak orang tua yang harus menderita masa tuanya, karena tak pernah mengajarkan agama, akhlak kepada anak-anaknya. Dan ketika anak-anaknya sudah besar, semua terlambat!

Dan ketika sudah terlambat semua jadi lingkaran setan. Anda sebagai orang tua kesal karena anak tak juga sadar kesalahannya (tidak berbakti pada orang tua). Akibat kesalnya Anda, kehidupan anak jadi makin tidak bahagia. Dan anak yang tidak bahagia tersebut akhirnya makin tidak berbakti kepada orang tuanya, bahkan kadang justru menyalahkan si orang tua.

Mari didik anak-anak kita tentang bakti kepada orang tua. Contohkan bakti kepada orang tua dengan memperlihatkan secara nyata bahwa kita juga berbakti kepada orang tua. Semoga dengan ini, masa depan anak-anak kita, hari tua kita bahwa kehidupan di akhirat kelak akan dipenuhi kebahagiaan… amiiin

(seperti diceritakan ke redaksi Parenting creativestore.com)

 

 

Iklan

One thought on “Jangan Main-main dengan Murka Seorang Ibu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s