Sebuah Renungan : Ayah Bunda, Lepaskan Egomu

orang tua pembelajarSalah satu kelemahan sebagian besar orang tua adalah ketidaksediaan mereka untuk belajar “ilmu menjadi orang tua”. Sebagian mereka terjebak pada rutinitas tiada akhir dan sebagian lagi menyepelekan fungsi orang tua.
Akhirnya anak berkembang tanpa arah yang jelas. Hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis dan sedikit kebutuhan eksistensi anak. Padahal menjadi orang tua sungguh tak mudah (dan imbalan besar bagi yang bisa menjalani peran ini dengan baik).
Sebagian orang tua malas belajar, padahal ilmu soal “parenting” sudah tersebar di mana-mana. Mereka menganggap “sudah bisa jadi orang tua” dengan memiliki anak tersebut. Atau “bisa menjadi orang tua” berbekal pengalaman yang mereka alami, baik atas diri mereka sendiri saat menjadi anak, atau melihat kasus-kasus yang terjadi.
Bisa jadi yang mereka alami, nilai yang mereka pegang ternyata tidak tepat, atau sudah tidak pas lagi dengan kehidupan anak-anaknya saat ini. Dan akhirnya pengasuhan anak berlangsung dengan cara yang kurang tepat. Akibatnya mungkin tak langsung dirasakan, tapi bisa jadi 5, 10, 15 atau 20 tahun mendatang, yang jika tidak diperbaiki akan menyusahkan mereka di masa depan.
Oleh karena itu Ayah Bunda, mari belajar menjadi orang tua yang baik. Jangan “gengsi” untuk belajar. Jangan marah jika mendapat kritik dari pihak lain soal pengasuhan yang kita lakukan. Jangan gunakan hawa nafsu kita saat mendengarkan sebuah ide soal pengasuhan anak yang mungkin berbeda dengan apa yang kita lakukan saat ini walau kita merasa sudah benar. Obyektiflah, dan prioritaskan masa depan anak-anak kita, kesehatan fisik dan psikologis anak kita daripada ego kita sendiri.
Tak pernah bermanfaat mempertahankan ego diri kita hanya untuk diakui bahwa kita orang tua yang hebat. Lalu kita tak mau sekedar duduk di sebuah seminar parenting, melihat video / cuplikan sebuah seminar, membaca buku-buku parenting, berdiskusi dengan orang tua lain seputar pengasuhan anak. Dan masih banyak lagi.
Jangan gengsi juga untuk mengubah diri jika ternyata kita melakukan kesalahan selama ini. Semakin cepat kita memperbaiki kesalahan, maka semakin baik akibatnya bagi anak-anak kita dan pada akhirnya untuk kita juga.
Anak-anak kita adalah kertas putih yang suci. Kitalah yang akan membentuk mereka jadi apa. Maka jangan biarkan kertas itu kusam, terkotori debu jalanan, atau terkoyak orang lain yang mau merusaknya. Jagalah anak-anak kita dengan baik. Karena mereka amanah sekaligus hadiah terindah dalam kehidupan.
Ingat, tak semua orang bisa mendapat nikmat ini, walau sudah berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Buktikan rasa syukur kita dengan merawat buah hati kita sebaik-baiknya.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s