Izinkan Aku Melanggar Perintahmu Sekali Lagi…

izinkan aku melanggar perintahmu sekali lagi

Syahdan, pada suatu ketika hiduplah di sebuah kampung seorang pemuda yang miskin, Bandi namanya. Ia hidup bersama kedua orang tuanya dan adiknya. Sehari-hari pekerjaannya adalah membuat mainan anak-anak dari kayu. Namun karena tak pandai berdagang, buatannya itu tak begitu laku. Bukan karena hasilnya buruk, tapi memang ia tak punya kemampuan berdagang.

Sampai suatu ketika nasibnya berubah drastis. Ketika putri tunggal saudagar paling kaya di kampung itu sedang bermain di sebuah kebun, datanglah sebuah harimau dari hutan yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke kampung itu. Di tengah ketakutan sang putri, Bandi datang menghalau harimau itu dengan gagah berani. Dengan cekatan ia ambil beberapa ranting dan membakarnya dengan api, lalu menghalau harimau itu.

Setelah “pertarungan nyali” yang agak lama, Harimau itu pun pergilah.

Zulaikha, begitu nama sang putri itu digambarkan sangat cantik jelita. Sejak itu ia terpesona dengan Bandi, yang ia bahkan belum tahu siapa pemuda itu. Dengan segenap kekayaannya, tak sulit untuk mencari tahu siapa pemuda itu. Singkat cerita, kenangan itu berbuah tunangan. Zulaikha tak dapat menahan cintanya pada si pemuda. Dan orang tua mereka hanya bisa merestui pernikahan yang pada awalnya tak disetujui karena “tak sekufu” itu.

Pernikahan digelar mewah. Sebuah pernikahan impian para pemuda kampung. Sebab mereka pun sudah tahu diri tak mungkin menikahi Zulaikha yang cantik jelita nan kaya raya itu. Dan kini yang bisa menikahi justru Bandi, pemuda paling miskin di kampung itu. Maka pernikahan itu bak mitos negeri dongeng, membuai semua pemuda pada khayalan yang sama, kapankah mereka bisa seberuntung Bandi.

Tahun berganti tahun. Bandi dan Zulaikha sudah dikaruniai 2 putri kecil cantik jelita seperti ibunya. Semakin lengkap pernikahan mereka, dan makin mirip dengan dongeng-dongeng yang ada. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia, dan serba lengkap kebahagiaannya. Makin membuat iri semua yang melihatnya.

Namun dibalik hingar bingar pandangan orang luar, sebenarnya ada ganjalan sangat kuat di hati Bandi. Makin lama ia merasa, bukan ini kehidupan yang diinginkannya. Zulaikha terlalu sibuk dengan perniagaan warisan kedua orang tuanya. Memang sepeninggal orang tuanya, Zulaikha-lah pewaris tunggal kekayaan mereka dan semua usaha yang dimilikinya. Namun justru karena itulah Zulaikha menjadi sangat sibuk.

Hampir setiap hari Zulaikha pulang menjelang isya, sementara sudah berangkat ke pasar kampung atau kota lain sudah sejak pagi. Sehingga praktis, dua putri kecil mereka hanya bersama Bandi sepanjang hari di rumah. Bandi sendiri memilih tetap di rumah karena tak mau dua putrinya diasuh orang lain. Bandi selalu berprinsip bahwa anak harus diasuh orang tuanya. Titik. Dan ia tak mau berunding soal ini. Maka ketika Zulaikha berkali-kali menawarkan untuk mencari pengasuh saja, agar Bandi bisa berkonsentrasi bekerja dan Zulaikha bisa berdagang dengan bebas. Bandi selalu menolak. Ia selalu memilih berkorban dengan bekerja di rumah daripada anak-anaknya diasuh orang lain.


banner sims printing jasa cetak percetakan pencetakan profesional info lebih lanjut

 


Bandi sudah beberapa kali sebenarnya meminta Zulaikha mengurangi tensi perniagaannya agar bisa lebih sering di rumah bersama anak-anaknya. Atau bahkan kalau bisa ia meninggalkan seluruh perniagaannya untuk menjaga keluarga. Memang secara natural, ia ingin seperti suami lainnya. Pulang bekerja disambut istri dan anaknya. Dibuatkan teh atau kopi manis dengan beberapa hidangan. Lalu bersantai bersama. Namun itu hampir tak dirasakannya, sepanjang pernikahan.

Semua keinginan Bandi selalu ditentang Zulaikha. Melihat Bandi yang hanya berpenghasilan alakadarnya dari mainan kayu buatannya. Zulaikha selalu mempertanyakan pekerjaan Bandi apakah mungkin menutup seluruh kebutuhan keluarga. Bandi selalu mengatakan bahwa Allah swt akan menanggung semuanya, rezeki dari Zulaikha akan berpindah lewat tangan Bandi. Namun semua hanya sebuah lelucon buat Zulaikha. Mengingat kenyataannya Bandi tak bisa menafkahi seluruh “kebutuhan” Zulaikha.

Akhirnya, Bandi lah yang tahu diri, ia tahu Zulaikha benar. Ia tahu bahwa dirinya tak punya apa-apa. Ia tahu bahwa penghasilannya tak seberapa, paling hanya untuk hidup saja tak lebih. Maka sudah 2 tahun terakhir Bandi tak pernah lagi berdiskusi soal itu. Ia lebih memilih pasrah menerima keadaan. Namun ia tetap pada prinsipnya, bahwa anak harus dipegang orang tuanya sendiri. Maka ia habiskan waktu bekerja dari rumah, sambil menjaga 2 putrinya yang masih kecil itu. Dari hari ke hari. Dari bulan ke bulan….

Sampai suatu ketika… Bandi jatuh sakit. Sakit yang tadinya biasa, dan semakin parah. Zulaikha bersusah hati melihat suaminya tersayang sakit seperti itu. Baru kali ini ia melihat suaminya keadaan berpayah seperti itu. Ia panggilkan tabib terbaik di kampung itu, namun tabib itu menyerah dan menyarankan memanggil seorang tabib di kota. Akhirnya disuruhlah seorang utusan memanggil tabib yang dimaksud.

Sang utusan memacu kuda bak kesetanan, seakan takut semuanya terlambat. Dan memang terlambat… Saat sang tabib sampai didepan Bandi, ia sudah menghembuskan nafas yang terakhir. Zulaikha terkaget bukan kepalang. Ia pingsan tak sadarkan diri. Suami yang dicintainya sudah tiada. Ia sungguh-sungguh tidak bisa menerima semuanya. Ia seperti belum “merasakan” kebersamaan dengan Bandi, dan kini sudah harus berpisah selamanya…


banner sims printing jasa cetak percetakan pencetakan profesional info lebih lanjut

 


Sehari setelah penguburan Bandi. Zulaikha yang masih sembab dengan air mata kedatangan 2 orang tamu. Sepasang suami istri tua renta. Ternyata mereka adalah saudagar terkaya di kota, jika bukan dikatakan terkaya di pulau itu. Mereka mendatangi Zulaikha dengan maksud yang tiada dikira, hendak memberikan separuh hartanya kepada Zulaikha dan anak-anaknya.

Tentu Zulaikha terbengong-bengong mendengar hal tersebut. Ternyata kedua pasangan itu menceritakan, bahwa selama ini Bandi sudah berjasa pada cucu tunggal mereka. Setelah anak mereka dan istrinya meninggal pada sebuah kecelakaan, sang cucu demikian shock. Tak mau bicara dan selalu murung tanpa henti.

Hingga suatu saat cucu mereka bertemu anak-anak zulaikha, dan sering bermain dengan mereka. Bukan itu saja, setiap cucu mereka datang Bandi selalu menyambutnya dengan baik bak anak sendiri. Sering kali, ia pulang dibawakan Bandi mainan kayu buatan Bandi. Dan Bandi sering tak mau dibayar, karena biasanya suami istri itu selalu mau membayar di atas harga rata-rata. Sementara Bandi hanya mau dibayar sekedarnya, seharga mainan itu.

Sejak sering bermain di rumah Bandi bersama anak-anak, cucu mereka “seakan hidup” lagi. Dan karena itu kedua suami istri itu ingin memberikan separuh hartanya sebagai rasa terima kasih. Niat itu sebenarnya sempat diurungkan, karena tahu Bandi sudah tiada. Namun cucunya yang sudah terlanjur tahu hal itu, justru memaksa kakek neneknya untuk memenuhi janjinya. Dan karena itu mereka ada disini hari ini, bersama sang cucu tersebut.

Mereka pun menangis, karena tak sempat melihat Bandi untuk terakhir kalinya. Dan Zulaikha lebih menangis, tak sangka suaminya, orang yang sering dilanggar perintahnya itu, ternyata sangat baik. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, janji Allah swt benar-benar terbukti. Jumlah harta yang diberikan kedua kakek nenek itu kalau ditotal, sejumlah 100 kali lipat dari harta Zulaikha sekarang. Subhanallah.

Namun justru itu yang membuat tangis Zulaikha makin keras. Andai dulu ia menuruti kata suaminya, mungkin ia akan lebih lama “menikmati kebersamaan” dengan suaminya. Harta yang 100 kali lipat lebih banyak itu sangat terasa tak sebanding dengan nyawa suaminya. Ia juga begitu menyesalnya, karena sebenarnya suaminya sudah beberapa kali mengeluh soal sakitnya. Namun Zulaikha menganggapnya biasa. Ia menganggap sama kondisinya dengan Bandi. Sementara Zulaikha memang dikenal sebagai orang yang fisiknya kuat dan sehat.

Dan tangis itu sudah tiada guna. Bandi sudah pergi selamanya, meninggalkannya dalam sendiri mengasuh anak-anaknya. Bandi, pemuda yang sangat baik itu takkan pernah kembali lagi. Menyisakan kenangan indah dalam hidupnya. Kenangan yang dulu selalu diabaikannya. Masih juga terngiang di hari pemakamannya, hampir seluruh kampung hadir mengantar. Pemakamannya pun hampir-hampir tertunda lama. Sebab hampir setiap orang ingin memberikan kata terakhir, tak sangka, Bandi yang awalnya pemuda miskin itu, yang hidup bagaikan negeri dongeng, menikah dengan putri impian, ternyata juga pemuda yang sangat baik sekali.


banner sims printing jasa cetak percetakan pencetakan profesional info lebih lanjut

 


Hampir seluruh isi kampung pernah merasakan kebaikan Bandi. Jika tak distop oleh tokoh adat, mungkin pemakamannya akan tertunda sampai sore. Saking banyaknya yang ingin bicara. Zulaikha saat itu tak hentinya menangis. Betapa mutiara dalam hidupnya harus pergi, dan selama ini ia tak menyadari bahwa Bandi lah mutiara dalam hidupnya…

3 bulan sepuluh hari sudah Bandi pergi. Dan Zulaikha berlutut di depan makam Bandi. Ia ingat pesan Bandi, bahwa jika ia “pergi” lebih dulu, Zulaikha harus menikah lagi. Demi ada yang menjaga dirinya dan anak-anaknya. Namun hari ini, didepan pusara Bandi, Zulaikha berkata lirih, “Suamiku tersayang, izinkan aku melanggar perintahmu sekali lagi… Aku tidak akan menikah lagi. Bagi ku kau suamiku selamanya, sampai kita bertemu kembali di syurga kelak…”

Zulaikha adalah orang yang paham agama. Ia tahu benar, bahwa ia bisa bersua kembali dengan suaminya di syurga kelak. Karenanya ia tak mau menikah lagi, dan kini harus “membangkang” perintah suaminya lagi untuk terakhir kali. Ia tak mau harus memilih jadi istri siapa kelak di syurga. Hanya Bandi yang ada dalam hatinya. Dan itu akan ia jaga selamanya.

creative store 24 bantu share ya

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s