Izinkan Aku Melanggar Perintahmu Sekali Lagi…

izinkan aku melanggar perintahmu sekali lagi

Syahdan, pada suatu ketika hiduplah di sebuah kampung seorang pemuda yang miskin, Bandi namanya. Ia hidup bersama kedua orang tuanya dan adiknya. Sehari-hari pekerjaannya adalah membuat mainan anak-anak dari kayu. Namun karena tak pandai berdagang, buatannya itu tak begitu laku. Bukan karena hasilnya buruk, tapi memang ia tak punya kemampuan berdagang.

Sampai suatu ketika nasibnya berubah drastis. Ketika putri tunggal saudagar paling kaya di kampung itu sedang bermain di sebuah kebun, datanglah sebuah harimau dari hutan yang entah bagaimana caranya bisa masuk ke kampung itu. Di tengah ketakutan sang putri, Bandi datang menghalau harimau itu dengan gagah berani. Dengan cekatan ia ambil beberapa ranting dan membakarnya dengan api, lalu menghalau harimau itu.

Setelah “pertarungan nyali” yang agak lama, Harimau itu pun pergilah.

Zulaikha, begitu nama sang putri itu digambarkan sangat cantik jelita. Sejak itu ia terpesona dengan Bandi, yang ia bahkan belum tahu siapa pemuda itu. Dengan segenap kekayaannya, tak sulit untuk mencari tahu siapa pemuda itu. Singkat cerita, kenangan itu berbuah tunangan. Zulaikha tak dapat menahan cintanya pada si pemuda. Dan orang tua mereka hanya bisa merestui pernikahan yang pada awalnya tak disetujui karena “tak sekufu” itu.

Pernikahan digelar mewah. Sebuah pernikahan impian para pemuda kampung. Sebab mereka pun sudah tahu diri tak mungkin menikahi Zulaikha yang cantik jelita nan kaya raya itu. Dan kini yang bisa menikahi justru Bandi, pemuda paling miskin di kampung itu. Maka pernikahan itu bak mitos negeri dongeng, membuai semua pemuda pada khayalan yang sama, kapankah mereka bisa seberuntung Bandi.

Tahun berganti tahun. Bandi dan Zulaikha sudah dikaruniai 2 putri kecil cantik jelita seperti ibunya. Semakin lengkap pernikahan mereka, dan makin mirip dengan dongeng-dongeng yang ada. Dari luar, mereka tampak seperti keluarga bahagia, dan serba lengkap kebahagiaannya. Makin membuat iri semua yang melihatnya.

Namun dibalik hingar bingar pandangan orang luar, sebenarnya ada ganjalan sangat kuat di hati Bandi. Makin lama ia merasa, bukan ini kehidupan yang diinginkannya. Zulaikha terlalu sibuk dengan perniagaan warisan kedua orang tuanya. Memang sepeninggal orang tuanya, Zulaikha-lah pewaris tunggal kekayaan mereka dan semua usaha yang dimilikinya. Namun justru karena itulah Zulaikha menjadi sangat sibuk.

Hampir setiap hari Zulaikha pulang menjelang isya, sementara sudah berangkat ke pasar kampung atau kota lain sudah sejak pagi. Sehingga praktis, dua putri kecil mereka hanya bersama Bandi sepanjang hari di rumah. Bandi sendiri memilih tetap di rumah karena tak mau dua putrinya diasuh orang lain. Bandi selalu berprinsip bahwa anak harus diasuh orang tuanya. Titik. Dan ia tak mau berunding soal ini. Maka ketika Zulaikha berkali-kali menawarkan untuk mencari pengasuh saja, agar Bandi bisa berkonsentrasi bekerja dan Zulaikha bisa berdagang dengan bebas. Bandi selalu menolak. Ia selalu memilih berkorban dengan bekerja di rumah daripada anak-anaknya diasuh orang lain.


banner sims printing jasa cetak percetakan pencetakan profesional info lebih lanjut

 


Bandi sudah beberapa kali sebenarnya meminta Zulaikha mengurangi tensi perniagaannya agar bisa lebih sering di rumah bersama anak-anaknya. Atau bahkan kalau bisa ia meninggalkan seluruh perniagaannya untuk menjaga keluarga. Memang secara natural, ia ingin seperti suami lainnya. Pulang bekerja disambut istri dan anaknya. Dibuatkan teh atau kopi manis dengan beberapa hidangan. Lalu bersantai bersama. Namun itu hampir tak dirasakannya, sepanjang pernikahan.

Semua keinginan Bandi selalu ditentang Zulaikha. Melihat Bandi yang hanya berpenghasilan alakadarnya dari mainan kayu buatannya. Zulaikha selalu mempertanyakan pekerjaan Bandi apakah mungkin menutup seluruh kebutuhan keluarga. Bandi selalu mengatakan bahwa Allah swt akan menanggung semuanya, rezeki dari Zulaikha akan berpindah lewat tangan Bandi. Namun semua hanya sebuah lelucon buat Zulaikha. Mengingat kenyataannya Bandi tak bisa menafkahi seluruh “kebutuhan” Zulaikha.

Akhirnya, Bandi lah yang tahu diri, ia tahu Zulaikha benar. Ia tahu bahwa dirinya tak punya apa-apa. Ia tahu bahwa penghasilannya tak seberapa, paling hanya untuk hidup saja tak lebih. Maka sudah 2 tahun terakhir Bandi tak pernah lagi berdiskusi soal itu. Ia lebih memilih pasrah menerima keadaan. Namun ia tetap pada prinsipnya, bahwa anak harus dipegang orang tuanya sendiri. Maka ia habiskan waktu bekerja dari rumah, sambil menjaga 2 putrinya yang masih kecil itu. Dari hari ke hari. Dari bulan ke bulan….

Sampai suatu ketika… Bandi jatuh sakit. Sakit yang tadinya biasa, dan semakin parah. Zulaikha bersusah hati melihat suaminya tersayang sakit seperti itu. Baru kali ini ia melihat suaminya keadaan berpayah seperti itu. Ia panggilkan tabib terbaik di kampung itu, namun tabib itu menyerah dan menyarankan memanggil seorang tabib di kota. Akhirnya disuruhlah seorang utusan memanggil tabib yang dimaksud.

Sang utusan memacu kuda bak kesetanan, seakan takut semuanya terlambat. Dan memang terlambat… Saat sang tabib sampai didepan Bandi, ia sudah menghembuskan nafas yang terakhir. Zulaikha terkaget bukan kepalang. Ia pingsan tak sadarkan diri. Suami yang dicintainya sudah tiada. Ia sungguh-sungguh tidak bisa menerima semuanya. Ia seperti belum “merasakan” kebersamaan dengan Bandi, dan kini sudah harus berpisah selamanya…


banner sims printing jasa cetak percetakan pencetakan profesional info lebih lanjut

 


Sehari setelah penguburan Bandi. Zulaikha yang masih sembab dengan air mata kedatangan 2 orang tamu. Sepasang suami istri tua renta. Ternyata mereka adalah saudagar terkaya di kota, jika bukan dikatakan terkaya di pulau itu. Mereka mendatangi Zulaikha dengan maksud yang tiada dikira, hendak memberikan separuh hartanya kepada Zulaikha dan anak-anaknya.

Tentu Zulaikha terbengong-bengong mendengar hal tersebut. Ternyata kedua pasangan itu menceritakan, bahwa selama ini Bandi sudah berjasa pada cucu tunggal mereka. Setelah anak mereka dan istrinya meninggal pada sebuah kecelakaan, sang cucu demikian shock. Tak mau bicara dan selalu murung tanpa henti.

Hingga suatu saat cucu mereka bertemu anak-anak zulaikha, dan sering bermain dengan mereka. Bukan itu saja, setiap cucu mereka datang Bandi selalu menyambutnya dengan baik bak anak sendiri. Sering kali, ia pulang dibawakan Bandi mainan kayu buatan Bandi. Dan Bandi sering tak mau dibayar, karena biasanya suami istri itu selalu mau membayar di atas harga rata-rata. Sementara Bandi hanya mau dibayar sekedarnya, seharga mainan itu.

Sejak sering bermain di rumah Bandi bersama anak-anak, cucu mereka “seakan hidup” lagi. Dan karena itu kedua suami istri itu ingin memberikan separuh hartanya sebagai rasa terima kasih. Niat itu sebenarnya sempat diurungkan, karena tahu Bandi sudah tiada. Namun cucunya yang sudah terlanjur tahu hal itu, justru memaksa kakek neneknya untuk memenuhi janjinya. Dan karena itu mereka ada disini hari ini, bersama sang cucu tersebut.

Mereka pun menangis, karena tak sempat melihat Bandi untuk terakhir kalinya. Dan Zulaikha lebih menangis, tak sangka suaminya, orang yang sering dilanggar perintahnya itu, ternyata sangat baik. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, janji Allah swt benar-benar terbukti. Jumlah harta yang diberikan kedua kakek nenek itu kalau ditotal, sejumlah 100 kali lipat dari harta Zulaikha sekarang. Subhanallah.

Namun justru itu yang membuat tangis Zulaikha makin keras. Andai dulu ia menuruti kata suaminya, mungkin ia akan lebih lama “menikmati kebersamaan” dengan suaminya. Harta yang 100 kali lipat lebih banyak itu sangat terasa tak sebanding dengan nyawa suaminya. Ia juga begitu menyesalnya, karena sebenarnya suaminya sudah beberapa kali mengeluh soal sakitnya. Namun Zulaikha menganggapnya biasa. Ia menganggap sama kondisinya dengan Bandi. Sementara Zulaikha memang dikenal sebagai orang yang fisiknya kuat dan sehat.

Dan tangis itu sudah tiada guna. Bandi sudah pergi selamanya, meninggalkannya dalam sendiri mengasuh anak-anaknya. Bandi, pemuda yang sangat baik itu takkan pernah kembali lagi. Menyisakan kenangan indah dalam hidupnya. Kenangan yang dulu selalu diabaikannya. Masih juga terngiang di hari pemakamannya, hampir seluruh kampung hadir mengantar. Pemakamannya pun hampir-hampir tertunda lama. Sebab hampir setiap orang ingin memberikan kata terakhir, tak sangka, Bandi yang awalnya pemuda miskin itu, yang hidup bagaikan negeri dongeng, menikah dengan putri impian, ternyata juga pemuda yang sangat baik sekali.


banner sims printing jasa cetak percetakan pencetakan profesional info lebih lanjut

 


Hampir seluruh isi kampung pernah merasakan kebaikan Bandi. Jika tak distop oleh tokoh adat, mungkin pemakamannya akan tertunda sampai sore. Saking banyaknya yang ingin bicara. Zulaikha saat itu tak hentinya menangis. Betapa mutiara dalam hidupnya harus pergi, dan selama ini ia tak menyadari bahwa Bandi lah mutiara dalam hidupnya…

3 bulan sepuluh hari sudah Bandi pergi. Dan Zulaikha berlutut di depan makam Bandi. Ia ingat pesan Bandi, bahwa jika ia “pergi” lebih dulu, Zulaikha harus menikah lagi. Demi ada yang menjaga dirinya dan anak-anaknya. Namun hari ini, didepan pusara Bandi, Zulaikha berkata lirih, “Suamiku tersayang, izinkan aku melanggar perintahmu sekali lagi… Aku tidak akan menikah lagi. Bagi ku kau suamiku selamanya, sampai kita bertemu kembali di syurga kelak…”

Zulaikha adalah orang yang paham agama. Ia tahu benar, bahwa ia bisa bersua kembali dengan suaminya di syurga kelak. Karenanya ia tak mau menikah lagi, dan kini harus “membangkang” perintah suaminya lagi untuk terakhir kali. Ia tak mau harus memilih jadi istri siapa kelak di syurga. Hanya Bandi yang ada dalam hatinya. Dan itu akan ia jaga selamanya.

creative store 24 bantu share ya

 

 

Iklan

Sebuah Renungan : Ayah Bunda, Lepaskan Egomu

orang tua pembelajarSalah satu kelemahan sebagian besar orang tua adalah ketidaksediaan mereka untuk belajar “ilmu menjadi orang tua”. Sebagian mereka terjebak pada rutinitas tiada akhir dan sebagian lagi menyepelekan fungsi orang tua.
Akhirnya anak berkembang tanpa arah yang jelas. Hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis dan sedikit kebutuhan eksistensi anak. Padahal menjadi orang tua sungguh tak mudah (dan imbalan besar bagi yang bisa menjalani peran ini dengan baik).
Sebagian orang tua malas belajar, padahal ilmu soal “parenting” sudah tersebar di mana-mana. Mereka menganggap “sudah bisa jadi orang tua” dengan memiliki anak tersebut. Atau “bisa menjadi orang tua” berbekal pengalaman yang mereka alami, baik atas diri mereka sendiri saat menjadi anak, atau melihat kasus-kasus yang terjadi.
Bisa jadi yang mereka alami, nilai yang mereka pegang ternyata tidak tepat, atau sudah tidak pas lagi dengan kehidupan anak-anaknya saat ini. Dan akhirnya pengasuhan anak berlangsung dengan cara yang kurang tepat. Akibatnya mungkin tak langsung dirasakan, tapi bisa jadi 5, 10, 15 atau 20 tahun mendatang, yang jika tidak diperbaiki akan menyusahkan mereka di masa depan.
Oleh karena itu Ayah Bunda, mari belajar menjadi orang tua yang baik. Jangan “gengsi” untuk belajar. Jangan marah jika mendapat kritik dari pihak lain soal pengasuhan yang kita lakukan. Jangan gunakan hawa nafsu kita saat mendengarkan sebuah ide soal pengasuhan anak yang mungkin berbeda dengan apa yang kita lakukan saat ini walau kita merasa sudah benar. Obyektiflah, dan prioritaskan masa depan anak-anak kita, kesehatan fisik dan psikologis anak kita daripada ego kita sendiri.
Tak pernah bermanfaat mempertahankan ego diri kita hanya untuk diakui bahwa kita orang tua yang hebat. Lalu kita tak mau sekedar duduk di sebuah seminar parenting, melihat video / cuplikan sebuah seminar, membaca buku-buku parenting, berdiskusi dengan orang tua lain seputar pengasuhan anak. Dan masih banyak lagi.
Jangan gengsi juga untuk mengubah diri jika ternyata kita melakukan kesalahan selama ini. Semakin cepat kita memperbaiki kesalahan, maka semakin baik akibatnya bagi anak-anak kita dan pada akhirnya untuk kita juga.
Anak-anak kita adalah kertas putih yang suci. Kitalah yang akan membentuk mereka jadi apa. Maka jangan biarkan kertas itu kusam, terkotori debu jalanan, atau terkoyak orang lain yang mau merusaknya. Jagalah anak-anak kita dengan baik. Karena mereka amanah sekaligus hadiah terindah dalam kehidupan.
Ingat, tak semua orang bisa mendapat nikmat ini, walau sudah berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Buktikan rasa syukur kita dengan merawat buah hati kita sebaik-baiknya.

7 Tips Mencegah Stress Pada Anak

anak stressStress sebenarnya tidak hanya melanda orang dewasa. Meskipun anak-anak terlihat tidak memiliki beban, namun sebenarnya tanpa kita sadari, mereka pun dapat terkena stress. Namun, stress pada anak berbeda dengan stress pada orang dewasa karena anak-anak belum memiliki pengalaman dan kemampuan berkomunikasi seperti orang dewasa, maka cara mereka menghadapi stress pun akan berbeda dengan orang dewasa. Stress pada anak dapat disebabkan oleh situasi positif maupun negatif yang terjadi di luar rutinitas normal, dan seringkali menimbulkan gejala fisik atau perubahan perilaku.

Berikut adalah beberapa cara yang dapat anda gunakan untuk membantu anak anda menghadapi stress yang dialaminya :

  1. Makan dengan sehat. Badan yang sehat akan lebih kuat terhadap stress. Jadwalkan makan yang teratur dan waktu mengemil. Jangan sampai anak anda melewatkan waktu makannya.
  2. Olahraga merupakan perda stress yang baik. Sama seperti orang dewasa, anak-anak perlu waktu untuk bersantai. Jika anak anda sulit melepaskan diri dari video game, televisi atau komputer, ajaklah dan sediakan mereka permainan aktivitas seperti bola atau sepeda. Jika anak anda terlihat stress, bermainlah dengan mereka. Menghabiskan waktu bersama anak anda adalah cara yang baik untuk memulai komunikasi.
  3. Buatlah peraturan yang jelas dan konsisten dengan kedisiplinan. Anak-anak hidup dalam dunia yang ‘hitam dan putih’. Pedoman yang tidak jelas dan ketidakkonsistenan bahkan akan membuat mereka lebih bingung daripada orang dewasa
  4. Sentuhan fisik yang lembut adalah penyembuh yang baik. Terkadang pelukan lebih berarti daripada ribuan kata. Pereda stress fisik lain dapat berupa pijitan lembut pada anak anad di leher dan bahunya.
  5. Belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik. Jangan kritik anak anda ketika ia ingin membicarakan masalahnya. Dan ingatlah bahwa anda tidak selalu perlu untuk memberikan nasehat. Terkadang anak anda hanyaperlu berbicara. Doronglah ia dengan pertanyaan terbuka seperti “Lalu gimana?” atau “Jadi, bagaimana perasaan kamu?”
  6. Ajarilah anak anda bahwa semua orang termasuk anda berbuat kesalahan. Awal yang baik adalah mengakui kesalahan anda pada anak anda dengan berkata “Ibu/Ayah minta maaf” atau “Itu kesalahan ibu/ayah” ketika anda berbuat kesalahan. Jika memungkinkan, gunakan pengalaman anda menghadapi situasi yang menyebabkan stress ketika anda masih kanak-kanak. Meskipun anda tidak berhasil mengatasi masalah anda, anda akan mengajarkan anak anda bahwa anda dapat belajar dan bahkan menertawakan kesalahan anda sendiri.
  7. Yang terakhir, ajarilah anak anda berlatih meredakan stress dan bantulah mereka mencari permainan yang dapat mereka mainkan untuk mengurangi stress.

8 Ide Kegiatan Bersama Anak Pada Hari Libur di Rumah

menggambar bareng 8Jika selama weekdays kita banyak “dipisahkan” dengan anak oleh pekerjaan dan “gadget” 🙂 Mungkin sudah saatnya Ayah Bunda mengagendakan waktu bersama buah hati tersayang di hari libur dan melakukan sebuah kegiatan bersama yang bermanfaat.

Berikut ini beberapa rekomendasi kegiatan bersama yang mungkin bisa dilakukan :

  1. Merapikan Rumah Bersama

Mungkin terlihat membosankan, namun jika Ayah Bunda bisa mengemas momen ini dengan baik, maka ini bisa jadi momen yang sangat menyenangkan. Merapikan rumah ini bukan merapikan biasa. Merapikan rumah secara signifikan, seperti merubah lay out, susunan perabot, penempatan barang. Tujuan pragmatisnya, rumah yang lebih nyaman. Namun tujuan utamanya sebenarnya memiliki waktu bersama anak dan mengajarkan dia soa tanggung jawab.

2. Memasak Bersama

Hal ini terutama buat Bunda, walau para Ayah juga boleh (dan sudah sangat banyak contoh ayah yang jago masak). Anak dilibatkan dalam proses memasak. Dan karena ini momen spesial, yang dimasak mungkin bisa dipertimbangkan sesuatu yang spesial juga. Sesuatu yang saat weekdays jarang bisa kita konsumsi. Kalau biasanya saat weekdays, dengan alasan waktu /
biar nggak ribet, anak sering dilarang ikut membantu, dalam momen ini justru anak dilibatkan aktif. Mungkin hasil mereka tidak akan sempurna, namun sekali lagi bukan itu tujuannya. Ini adalah momen kebersamaan dengan anak, maka jaga baik-baik tujuan itu.

3. Mencuci Kendaraan Bersama

Mungkin lebih praktis jika mobil / motor di cuci di tukang cuci terdekat. Tetapi sesekali, cobalah untuk melakukan kegiatan kini bersama anak. Anak pasti akan suka (percayalah mereka suka sekali bermain air). Selain bisa mendekatkan diri dengan anak, momen ini juga bisa jadi saat kita mengajarkan anak soal kegiatan fisik yang seharusnya juga mereka bisa walau zaman ini semua serba bisa di outsourcing

4. Berkebun Bersama

Jika halaman rumah Ayah Bunda ada cukup area tanah untuk berkebung, maka cobalah ajak anak untuk bekebun bersama. Menanam pohon bersama, memberi pupuk, menyiram, merapikan tanaman, semua akan terasa menyenangkan dilakukan bersama Ayah Bunda.
Hal ini juga untuk mengurangi aktivitas bermain gadget atau nonton TV yang sekarang sudah terlalu banyak memberi dampak negatif bagi anak.

5. Olahraga Bersama

Ini pilihan yang bijak, karena bisa jadi Ayah Bundanya juga jarang olahraga. Namun untuk olahraga bersama ini, bisa jadi tensinya tak bisa terlalu keras. Karena bagaimana pun mereka masih kecil. Ayah Bunda bisa coba bermain bola bersama, main basket bersama, bersepeda bersama atau bahkan sekedar jogging bersama.

6. Bermain Bersama

Sepanjang weekdays mungkin Anda terlalu sering menolak ajakan anak untuk bermain bersama. Di weekend ini, coba “tebus dosa Anda”, dengan mengajak semua permainan yang disukai anak. Bisa jadi itu monopoli, ular tangga, permainan kartu hingga permainan fisik seperti petak umpet. Tertawalah bersama anak. Dekatlah dengan anak. Biarkan mereka merasakan kehadiran Ayah Bunda secara paripurna di momen ini dan pada saat bersamaan Anda menikmati masa kecil mereka “selagi mereka masih kecil”. Sebab bisa jadi momen-momen ini tidak akan terulang.

7. Berbelanja Bersama

Weekend ini Anda bisa ajak anak berbelanja bersama. Dan sekedar rekomendasi, agar lebih memmorable, ajak anak berbelanja ke pasar tradisional (soalnya kalau mal mungkin sudah sering). Ajak anak mengenal kehidupan “riil” di sekitar mereka. Ajarkan anak cara memilih bahan makanan yang baik. Ajarkan anak cara menawar yang baik dan masih banyak lagi. Ini akan jadi pengalaman yang menyenangkan buat anak. Pasar tradisional mungkin becek, kotor, dst, namun sesekali mereka perlu mengenal kondisi-kondisi seperti ini.

8. Menggambar Bersama

Menggambar adalah salah satu aktivitas yang disukai anak. Cobalah menggambar bersama di weekend ini. Carilah ide-ide gambar bentuk yang bisa Anda ajarkan kepada anak. Tak perlu mewah-mewah dari sisi peralatan. Beberapa crayon / pensil warna sudah cukup. Bahkan kadang beberapa lembar kertas HVS dengan pensil saja sudah cukup. Yang penting bagaimana Anda mengemas kegiatan tersebut.

Jangan Main-main dengan Murka Seorang Ibu

ibu sedih tips parenting ayah bunda anak buah hatiIni mungkin terlihat seperti sinetron, atau bahkan kisah yang melegenda Malin Kundang dalam versi mikro. Tapi memang ini kejadian nyata yang kualami. Semoga jadi pelajaran buat kita semua.

Ketika Jenuh Datang

Awal tahun ini, ibuku sering sakit-sakitan. Walau pun sakitnya sebenarnya tidak terlalu parah, hanya flu dan demam, tetapi kadang terasa agak manja. Rumahku berjarak sekitar 9 KM dari rumah orang tuaku. Dan selama sakit, dia sering memanggilku ke rumahnya. Di sana aku diminta merawatnya. Mulai dari belikan makan yang dia suka, buatkan makanan, buatkan minuman, atau hal-hal lain.

Baca juga : Rahasia anak pintar ternyata sederhana

Awal-awalnya semua kulakukan dengan senang hati. Tapi lama kelamaan, sifat manusiaku muncul juga. Aku jenuh. Karena Ibu sakitnya ini seperti nggak berbatas waktu, sudah hampir 2 bulan ya progressnya begitu-begitu saja. Di satu sisi bagaimana bisa sembuh? Makan saja tidak mau, apalagi makan obat, diajak ke dokter apalagi, tidak mau. Jadinya seperti sakit tanpa jelas bagaimana bisa sembuhnya. Lama-lama aku jadi berpikir Ibu ingin dimanja saja oleh anak lelakinya ini. Bapak sendiri sudah nyerah, dan agak malas juga mengurus ibuku.

Sampai suatu ketika… Aku sedang jenuh-jenuhnya. Malam itu, aku istri dan kedua anakku sedang berkunjung ke sebuah mall. Lalu ada telepon dari ibuku. Di ujung sana dia bertanya kenapa aku tidak ke sana (kerumah orang tuaku). Dengan agak sedikit kikuk aku cari alasan ini itu. Akhirnya dengan sedikit kecewa, ibu menerima alasanku. Walau tidak marah, namun aku bisa membaca kekecewaannya. Dia hanya berkata, “Ooo, ya udah kalau tidak bisa kesini”.

Setelah itu hatiku mulai diliputi kegelisahan dan rasa bersalah. Walau nafsuku+syetan mencoba membantu dan “membenarkan” langkahku itu dengan alasan, aku sudah terlalu banyak berbuat untuk ibuku. Bersenang-senang sekali-kali boleh dong. Dan akhirnya setelah itu kami pulang ke rumah.

Balasan Ketika Membuat Ibu Kecewa

Malam itu mendung. Dan sesampainya di rumah, hujan mulai turun. 1 menit, 2 menit, setengah jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam. Hujan tak kunjung berhenti. Bahkan makin deras. Di sinilah mulai terjadi ketakutanku. Mengingat perumahanku adalah langganan banjir. Bolak-balik ku lihat ke depan, air terus meninggi, meninggi dan semakin tinggi. Lapangan sudah tertutup air, jalanan sudah full tergenang air. Akhirnya aku bangunkan istriku yang tertidur dan meminta sesegera mungkin packing untuk mengungsi.

Baca juga : Ternyata ini rahasia sederhana membuat anak pintar 

Secepat kilat istriku membenahi pakaian. Aku coba mengangkat barang-barang agar berada di posisi aman. Setelah semua siap, anak-anak yang sedang tertidur, aku angkat ke mobil. Dan kami pun keluar rumah dalam keadaan hujan yang tak ada tanda-tanda reda. Perjalanan “membebaskan diri” dari banjir pun menegangkan. Jalanan-jalanan tertutup air sangat tinggi. Tidak jarang aku rasakan knalpot mobil sudah tertutup air. Aku hanya berdoa agar mobil ini tak mati di tengah banjir. Sebab jika mati, justru menjadi sebuah pilihan yang buruk daripada kita tetap tinggal di rumah walau banjir.

Beberapa kali jalanan rendah aku terjang, bahkan hingga plat mobil hilang entah kemana, dan lampu kabut kemasukan air. Setelah perjalanan yang ekstra menegangkan, kami bisa “bebas” dari perumahan tempat kami tinggal. Segera kami menuju rumah orang tuaku yang hanya beda satu kecamatan dan berlokasi di sebuah kampung (yang insya Allah bebas banjir).

Sesampai di sana ibu sudah menungguku dengan pandangan sayang. Kamar untuk kami pun sudah disiapkan (sebelumnya aku sudah memberi kabar kalau mau mengungsi ke sana). Dan akhirnya, malam itu aku “tetap harus ke rumah orang tuaku”. Cuma kini dengan kondisi yang penuh kepayahan.

Sejak itu aku jadi makin “takut” melanggar perintah ibu, selama perintah itu tak bertentangan dengan Allah swt dan Rasul-Nya. Ternyata Allah swt, punya cara tersendiri “menghukumku”. Aku malas ke rumah orang tua merawat ibu yang sakit, ujung-ujungnya aku tetap harus ke sana, seperti dipaksa ke sana. Keesokannya aku dan istri coba main ke rumahku (anak-anak masih di rumah orang tua). Dan benar memang kemarin rumah kami terendam air hingga beberapa belas sentimeter. Kalau di dalam rumah kami sudah setinggi itu, biasanya di lapangan dan jalanan bisa sepinggang banjirnya. Dan sepanjang banjir memang semua aktivitas sangat terganggu.

Jangan pernah main-main dengan murka ibu / orang tua. Sebab durhaka kepada orang tua adalah dosa yang “disegerakan” hukumannya di dunia (selain balasan di akhirat). Itu ibu hanya sedikit kecewa pada saya, maka bagaimana jika seorang ibu bisa sampai “bersumpah” karena saking kecewanya pada kita. Berhati-hatilah.

Berbakti Kepada Orang Tua “Harus Diajarkan”

Dan jika kita adalah orang tua, ajarilah anak-anak sedari kecil untuk berbakti kepada orang tua. Ya ! Berbakti kepada orang tua itu harus diajarkan dan didoktrinkan. Jangan terlalu berharap keajaiban mereka akan tahu sendiri hal ini di luar sana. Berapa banyak orang tua yang harus menderita masa tuanya, karena tak pernah mengajarkan agama, akhlak kepada anak-anaknya. Dan ketika anak-anaknya sudah besar, semua terlambat!

Dan ketika sudah terlambat semua jadi lingkaran setan. Anda sebagai orang tua kesal karena anak tak juga sadar kesalahannya (tidak berbakti pada orang tua). Akibat kesalnya Anda, kehidupan anak jadi makin tidak bahagia. Dan anak yang tidak bahagia tersebut akhirnya makin tidak berbakti kepada orang tuanya, bahkan kadang justru menyalahkan si orang tua.

Mari didik anak-anak kita tentang bakti kepada orang tua. Contohkan bakti kepada orang tua dengan memperlihatkan secara nyata bahwa kita juga berbakti kepada orang tua. Semoga dengan ini, masa depan anak-anak kita, hari tua kita bahwa kehidupan di akhirat kelak akan dipenuhi kebahagiaan… amiiin

(seperti diceritakan ke redaksi Parenting creativestore.com)

 

 

Kebersamaan dengan Anak Itu Bukan Cuma Kualitas, Tapi Juga Kuantitas

kebersamaan butuh kuantitas bukan cuma kualitas tips parenting buah hati ayah bunda anakMungkin sepertinya terbalik ya? Biasanya kita mendengar, kebersamaan dengan anak yang penting kualitas, bukan kuantitas. Biar sebentar, yang penting waktu-waktu bersama anak itu berkualitas tinggi. Kira-kira begitu premis yang banyak terjadi. Apa benar?

Selalu Ada “Kuota Minimal”

Pada kenyataannya selalu ada kuota-kuota minimal yang harus Anda penuhi untuk bersama anak Anda. Kualitas tidak dapat menggantikan kuantitas yang terlalu sedikit. Hanya “bertemu” anak 10 menit sehari bisa jadi tidak cukup untuk si kecil. Walaupun terkesan 10 menit itu sudah sangat maksimal di mana perhatian Anda penuh untuk mereka.

Anak butuh sosok orang tua secara lengkap, baik ayah atau pun ibu. Jika Anda berdua adalah orang tua yang bekerja, maka Anda berdua wajib mengagendakan waktu yang cukup dengan anak-anak. Untuk satu orang tua, setidaknya minimal 1 jam sehari bisa berinteraksi full dengan anak. Variasi kegiatan bisa menemani mengerjakan PR, menyiapkan makanan, bermain bersama, dll. Jika pun salah satu sedang sibuk, maka harus bergantian dengan pasangan agar anak tak “kosong” dari sosok orang tua.

Bagaimana Jika Realitanya Memang Tidak Bisa?

Lalu bagaimana jika realitanya pada weekdays kita memang tak bisa “bertemu” anak? Pagi kita harus berangkat sebelum mereka bangun dan saat pulang mereka sudah tidur. Ini kondisi darurat. Maka di sela-sela waktu kerja Anda wajib menyempatkan diri menghubungi mereka walau via telepon. Sebaiknya minimal 2 kali sehari. Lalu, pada weekend, ada satu hari yang memang Anda dedikasikan khusus untuk mereka.

Ayah Bunda yang berbahagia, bagaimana pun kondisi di atas (dimana sangat minim waktu untuk bertemu anak) adalah kondisi darurat dan Anda tetap harus menganggapnya darurat. Dalam arti, Anda harus berusaha keras untuk mengubah kehidupan Anda dan keluarga. Jika perkerjaan yang sekarang terlalu menyita waktu, maka Anda harus berjuang mencari kerja lain yang tak menghalangi kebersamaan Anda bersama anak. Manusia selalu diberikan potensi besar untuk menjadi jauh lebih baik. Tinggal kita mau berusaha keras atau tidak dalam mengeksploitasi potensi itu. Belajarlah dan belajarlah lebih banyak untuk mengubah kehidupan Anda.

Jangan Jadi Orang yang “Sial” Dua Kali

Ingat, masa-masa kecil anak takkan pernah terulang ! Selamanya! Jangan sampai Anda menyesal sangat jarang hadir dalam momen-momen penting kehidupan mereka. Jangan sampai Anda menyesal tak bisa membentuk kepribadian mereka dengan kepribadian yang utuh dan mulia. Jangan sampai Anda menyesal, saat mereka kecil Anda menghabiskan waktu bekerja keras, ketika dewasa mereka menjadi sosok yang tidak Anda kenal dan memiliki kepribadian yang buruk. Jadinya sial dua kali. Sudah tidak bisa “menikmati” masa-masa kecil mereka, lelah bekerja keras, eh sudah besar, mereka jadi sosok yang selalu menyusahkan orang tua.

Sosok orang tua sangat dibutuhkan pada masa-masa pembentukan kepribadian. Dan itu juga tidak hanya dibebankan ke sosok Bunda saja. Apalagi tentunya jika sang Bunda juga bekerja. Anak butuh sosok Ayah dan Bunda secara lengkap agar pribadi mereka jadi pribadi yang “lengkap” tidak mengalami penyimpangan dan keterbelakangan.

Anak adalah anugerah terindah kehidupan. Uang milyaran pun takkan bisa menggantikan nikmatnya punya anak. Sudah selayaknya kita yang mendapat nikmat anak menjaga nikmat ini dengan sebaik-baiknya..

 

5 Sikap yang Harus Anda Miliki Saat Rumah Seperti “Kapal Pecah”

ketika rumah seperti kapal pecah berantakan tips parenting buah hati ayah bunda anak balitaPenulis : Tim Admin

Bagaimana sebaiknya kita bersikap saat si Kecil selalu mengubah rumah yang tadinya rapi menjadi begitu berantakan? Beberapa sikap ini perlu anda miliki agar lebih bijaksana dalam menghadapi situasi ini:

1. Jangan Buru-buru Menyalahkan Pihak Lain dan Berempatilah

Saat Ayah pulang kerja, tentu ia menginginkan suasana rumah yang kondusif. Tekanan pekerjaan yang kadang seperti sudah tak bisa kita tolerir lagi juga kondisi jalanan yang sering membuat stress adalah beberapa penyebabnya. Namun apa yang terjadi saat pulang, Ayah melihat rumah seperti “kapal pecah”? Remah-remah makanan dimana-mana, mainan bertebaran dari sofa hingga kamar tidur, belum lagi piring-piring kotor tertumpuk tak beraturan, dan masih banyak lagi.

Saat melihat kondisi ini, jangan langsung mencari kambing hitam, seperti anak yang nakal, Bunda yang pemalas dst. Tenangkan diri Anda sesaat. Kemarahan takkan menyelesaikan masalah ini. Sebaliknya hidupkan rasa empati Anda. Sebab bisa jadi Bunda sudah berusaha yang terbaik untuk membuat rumah rapi, tetapi anak-anak Anda yang lucu itu kembali membuatnya berantakan. Bisa juga sebenarnya anak-anak Anda sudah punya tekad yang benar ingin merapikan sebelum Anda pulang, tetapi ternyata waktunya terlambat dan Anda keburu sampai rumah, serta masih banyak lagi. Dengan empati, insya Allah keadaan bisa jauh lebih baik.

 

2. Ajak Anak Ikut Merapikan

Jika anak-anak Anda belum tidur, maka ini justru bisa jadi momen untuk melatih rasa tanggung jawab anak. Ajak ia merapikan mainan-mainannya. Tentunya Anda harus berbicara secara persuasif agar anak mau merapikan mainannya, diiringi dorongan positif seperti pujian kepada anak ketika anak mau melakukannya. Hal ini menjadi positif karena anak akan belajar soal tanggung jawab. Selain itu, hal ini mungkin akan mengurangi beban Bunda yang sudah kelelahan sepanjang hari meladeni anak-anak yang lucu itu.

3. Pahamilah Bahwa Kreativitas Anak Lebih Mahal

Bisa jadi ini adalah poin paling penting dari semuanya. Perkembangan kreativitas anak Anda jauh lebih penting dan mahal daripada “sekedar” rumah yang rapi atau bahkan “rasa lelah Anda”. Ingatlah tantangan zaman selalu berbeda. Tantangan pada masa anak-anak Anda dewasa bisa jadi sangat berbeda dengan masa Anda hidup saat ini. Oleh karena itu karakter kreatif sangat dibutuhkan anak agar bisa selalu adaptif dengan perubahan dan sukses di masa depan. Ketika anak “selalu bergerak”, membuat sesuatu, mencipta sesuatu, maka ia sedang mengasah karakter kreatifnya. Jadi jangan cegah ia melakukan itu semua. Jadikan rumah Anda KANVAS KREATIVITASNYA. Percayalah, semua itu akan terbayar kelak di masa depan.

4. Ajari Anak Soal Bertanggung Jawab

Jika kondisi sudah kondusif, Anda bisa mengajaknya berdialog dan mengajarkannya soal tanggung jawab. Sehingga di lain hari, selepas bermain, ia akan merapikan mainannya seperti semula. Bisa juga, jalan tengah jika Anda mau mengajarkan anak soal tanggung jawab tanpa mematikan kreativitasnya, Anda sediakan media khusus atau tempat-tempat khusus di mana anak bisa menumpahkan kreativitasnya di sana. Hal ini selain mengasah tanggung jawabnya, juga akan mengajarkan ia soal disiplin dan menaati sebuah aturan. Namun sekali lagi ia masih anak kecil, jadi tolong dipahami jika ia belum sempurna dalam menjalankan semua itu.

5. Milikilah Sudut Pandang Baru

Ketimbang selalu mengeluh dengan kondisi yang ada, milikilah sebuah sudut pandang baru. Seorang teman pernah mengatakan bahwa anak adalah sebuah nikmat yang sangat luar biasa. Menurutnya, uang 1 milyar pun takkan bisa mengalahkan nikmatnya memiliki anak. Ayah Bunda pikirkanlah bahwa masih banyak pasangan yang ingin memiliki anak, namun sampai bertahun-tahun usia pernikahan belum juga dikaruniai anak. Maka bersyukurlah kita masih diberi Allah swt anak-anak yang lucu, sementara banyak orang sangat menginginkannya namun belum juga mendapatkannya.