8 Ide Kegiatan Bersama Anak Pada Hari Libur di Rumah

menggambar bareng 8Jika selama weekdays kita banyak “dipisahkan” dengan anak oleh pekerjaan dan “gadget” 🙂 Mungkin sudah saatnya Ayah Bunda mengagendakan waktu bersama buah hati tersayang di hari libur dan melakukan sebuah kegiatan bersama yang bermanfaat.

Berikut ini beberapa rekomendasi kegiatan bersama yang mungkin bisa dilakukan :

  1. Merapikan Rumah Bersama

Mungkin terlihat membosankan, namun jika Ayah Bunda bisa mengemas momen ini dengan baik, maka ini bisa jadi momen yang sangat menyenangkan. Merapikan rumah ini bukan merapikan biasa. Merapikan rumah secara signifikan, seperti merubah lay out, susunan perabot, penempatan barang. Tujuan pragmatisnya, rumah yang lebih nyaman. Namun tujuan utamanya sebenarnya memiliki waktu bersama anak dan mengajarkan dia soa tanggung jawab.

2. Memasak Bersama

Hal ini terutama buat Bunda, walau para Ayah juga boleh (dan sudah sangat banyak contoh ayah yang jago masak). Anak dilibatkan dalam proses memasak. Dan karena ini momen spesial, yang dimasak mungkin bisa dipertimbangkan sesuatu yang spesial juga. Sesuatu yang saat weekdays jarang bisa kita konsumsi. Kalau biasanya saat weekdays, dengan alasan waktu /
biar nggak ribet, anak sering dilarang ikut membantu, dalam momen ini justru anak dilibatkan aktif. Mungkin hasil mereka tidak akan sempurna, namun sekali lagi bukan itu tujuannya. Ini adalah momen kebersamaan dengan anak, maka jaga baik-baik tujuan itu.

3. Mencuci Kendaraan Bersama

Mungkin lebih praktis jika mobil / motor di cuci di tukang cuci terdekat. Tetapi sesekali, cobalah untuk melakukan kegiatan kini bersama anak. Anak pasti akan suka (percayalah mereka suka sekali bermain air). Selain bisa mendekatkan diri dengan anak, momen ini juga bisa jadi saat kita mengajarkan anak soal kegiatan fisik yang seharusnya juga mereka bisa walau zaman ini semua serba bisa di outsourcing

4. Berkebun Bersama

Jika halaman rumah Ayah Bunda ada cukup area tanah untuk berkebung, maka cobalah ajak anak untuk bekebun bersama. Menanam pohon bersama, memberi pupuk, menyiram, merapikan tanaman, semua akan terasa menyenangkan dilakukan bersama Ayah Bunda.
Hal ini juga untuk mengurangi aktivitas bermain gadget atau nonton TV yang sekarang sudah terlalu banyak memberi dampak negatif bagi anak.

5. Olahraga Bersama

Ini pilihan yang bijak, karena bisa jadi Ayah Bundanya juga jarang olahraga. Namun untuk olahraga bersama ini, bisa jadi tensinya tak bisa terlalu keras. Karena bagaimana pun mereka masih kecil. Ayah Bunda bisa coba bermain bola bersama, main basket bersama, bersepeda bersama atau bahkan sekedar jogging bersama.

6. Bermain Bersama

Sepanjang weekdays mungkin Anda terlalu sering menolak ajakan anak untuk bermain bersama. Di weekend ini, coba “tebus dosa Anda”, dengan mengajak semua permainan yang disukai anak. Bisa jadi itu monopoli, ular tangga, permainan kartu hingga permainan fisik seperti petak umpet. Tertawalah bersama anak. Dekatlah dengan anak. Biarkan mereka merasakan kehadiran Ayah Bunda secara paripurna di momen ini dan pada saat bersamaan Anda menikmati masa kecil mereka “selagi mereka masih kecil”. Sebab bisa jadi momen-momen ini tidak akan terulang.

7. Berbelanja Bersama

Weekend ini Anda bisa ajak anak berbelanja bersama. Dan sekedar rekomendasi, agar lebih memmorable, ajak anak berbelanja ke pasar tradisional (soalnya kalau mal mungkin sudah sering). Ajak anak mengenal kehidupan “riil” di sekitar mereka. Ajarkan anak cara memilih bahan makanan yang baik. Ajarkan anak cara menawar yang baik dan masih banyak lagi. Ini akan jadi pengalaman yang menyenangkan buat anak. Pasar tradisional mungkin becek, kotor, dst, namun sesekali mereka perlu mengenal kondisi-kondisi seperti ini.

8. Menggambar Bersama

Menggambar adalah salah satu aktivitas yang disukai anak. Cobalah menggambar bersama di weekend ini. Carilah ide-ide gambar bentuk yang bisa Anda ajarkan kepada anak. Tak perlu mewah-mewah dari sisi peralatan. Beberapa crayon / pensil warna sudah cukup. Bahkan kadang beberapa lembar kertas HVS dengan pensil saja sudah cukup. Yang penting bagaimana Anda mengemas kegiatan tersebut.

Kebersamaan dengan Anak Itu Bukan Cuma Kualitas, Tapi Juga Kuantitas

kebersamaan butuh kuantitas bukan cuma kualitas tips parenting buah hati ayah bunda anakMungkin sepertinya terbalik ya? Biasanya kita mendengar, kebersamaan dengan anak yang penting kualitas, bukan kuantitas. Biar sebentar, yang penting waktu-waktu bersama anak itu berkualitas tinggi. Kira-kira begitu premis yang banyak terjadi. Apa benar?

Selalu Ada “Kuota Minimal”

Pada kenyataannya selalu ada kuota-kuota minimal yang harus Anda penuhi untuk bersama anak Anda. Kualitas tidak dapat menggantikan kuantitas yang terlalu sedikit. Hanya “bertemu” anak 10 menit sehari bisa jadi tidak cukup untuk si kecil. Walaupun terkesan 10 menit itu sudah sangat maksimal di mana perhatian Anda penuh untuk mereka.

Anak butuh sosok orang tua secara lengkap, baik ayah atau pun ibu. Jika Anda berdua adalah orang tua yang bekerja, maka Anda berdua wajib mengagendakan waktu yang cukup dengan anak-anak. Untuk satu orang tua, setidaknya minimal 1 jam sehari bisa berinteraksi full dengan anak. Variasi kegiatan bisa menemani mengerjakan PR, menyiapkan makanan, bermain bersama, dll. Jika pun salah satu sedang sibuk, maka harus bergantian dengan pasangan agar anak tak “kosong” dari sosok orang tua.

Bagaimana Jika Realitanya Memang Tidak Bisa?

Lalu bagaimana jika realitanya pada weekdays kita memang tak bisa “bertemu” anak? Pagi kita harus berangkat sebelum mereka bangun dan saat pulang mereka sudah tidur. Ini kondisi darurat. Maka di sela-sela waktu kerja Anda wajib menyempatkan diri menghubungi mereka walau via telepon. Sebaiknya minimal 2 kali sehari. Lalu, pada weekend, ada satu hari yang memang Anda dedikasikan khusus untuk mereka.

Ayah Bunda yang berbahagia, bagaimana pun kondisi di atas (dimana sangat minim waktu untuk bertemu anak) adalah kondisi darurat dan Anda tetap harus menganggapnya darurat. Dalam arti, Anda harus berusaha keras untuk mengubah kehidupan Anda dan keluarga. Jika perkerjaan yang sekarang terlalu menyita waktu, maka Anda harus berjuang mencari kerja lain yang tak menghalangi kebersamaan Anda bersama anak. Manusia selalu diberikan potensi besar untuk menjadi jauh lebih baik. Tinggal kita mau berusaha keras atau tidak dalam mengeksploitasi potensi itu. Belajarlah dan belajarlah lebih banyak untuk mengubah kehidupan Anda.

Jangan Jadi Orang yang “Sial” Dua Kali

Ingat, masa-masa kecil anak takkan pernah terulang ! Selamanya! Jangan sampai Anda menyesal sangat jarang hadir dalam momen-momen penting kehidupan mereka. Jangan sampai Anda menyesal tak bisa membentuk kepribadian mereka dengan kepribadian yang utuh dan mulia. Jangan sampai Anda menyesal, saat mereka kecil Anda menghabiskan waktu bekerja keras, ketika dewasa mereka menjadi sosok yang tidak Anda kenal dan memiliki kepribadian yang buruk. Jadinya sial dua kali. Sudah tidak bisa “menikmati” masa-masa kecil mereka, lelah bekerja keras, eh sudah besar, mereka jadi sosok yang selalu menyusahkan orang tua.

Sosok orang tua sangat dibutuhkan pada masa-masa pembentukan kepribadian. Dan itu juga tidak hanya dibebankan ke sosok Bunda saja. Apalagi tentunya jika sang Bunda juga bekerja. Anak butuh sosok Ayah dan Bunda secara lengkap agar pribadi mereka jadi pribadi yang “lengkap” tidak mengalami penyimpangan dan keterbelakangan.

Anak adalah anugerah terindah kehidupan. Uang milyaran pun takkan bisa menggantikan nikmatnya punya anak. Sudah selayaknya kita yang mendapat nikmat anak menjaga nikmat ini dengan sebaik-baiknya..

 

5 Sikap yang Harus Anda Miliki Saat Rumah Seperti “Kapal Pecah”

ketika rumah seperti kapal pecah berantakan tips parenting buah hati ayah bunda anak balitaPenulis : Tim Admin

Bagaimana sebaiknya kita bersikap saat si Kecil selalu mengubah rumah yang tadinya rapi menjadi begitu berantakan? Beberapa sikap ini perlu anda miliki agar lebih bijaksana dalam menghadapi situasi ini:

1. Jangan Buru-buru Menyalahkan Pihak Lain dan Berempatilah

Saat Ayah pulang kerja, tentu ia menginginkan suasana rumah yang kondusif. Tekanan pekerjaan yang kadang seperti sudah tak bisa kita tolerir lagi juga kondisi jalanan yang sering membuat stress adalah beberapa penyebabnya. Namun apa yang terjadi saat pulang, Ayah melihat rumah seperti “kapal pecah”? Remah-remah makanan dimana-mana, mainan bertebaran dari sofa hingga kamar tidur, belum lagi piring-piring kotor tertumpuk tak beraturan, dan masih banyak lagi.

Saat melihat kondisi ini, jangan langsung mencari kambing hitam, seperti anak yang nakal, Bunda yang pemalas dst. Tenangkan diri Anda sesaat. Kemarahan takkan menyelesaikan masalah ini. Sebaliknya hidupkan rasa empati Anda. Sebab bisa jadi Bunda sudah berusaha yang terbaik untuk membuat rumah rapi, tetapi anak-anak Anda yang lucu itu kembali membuatnya berantakan. Bisa juga sebenarnya anak-anak Anda sudah punya tekad yang benar ingin merapikan sebelum Anda pulang, tetapi ternyata waktunya terlambat dan Anda keburu sampai rumah, serta masih banyak lagi. Dengan empati, insya Allah keadaan bisa jauh lebih baik.

 

2. Ajak Anak Ikut Merapikan

Jika anak-anak Anda belum tidur, maka ini justru bisa jadi momen untuk melatih rasa tanggung jawab anak. Ajak ia merapikan mainan-mainannya. Tentunya Anda harus berbicara secara persuasif agar anak mau merapikan mainannya, diiringi dorongan positif seperti pujian kepada anak ketika anak mau melakukannya. Hal ini menjadi positif karena anak akan belajar soal tanggung jawab. Selain itu, hal ini mungkin akan mengurangi beban Bunda yang sudah kelelahan sepanjang hari meladeni anak-anak yang lucu itu.

3. Pahamilah Bahwa Kreativitas Anak Lebih Mahal

Bisa jadi ini adalah poin paling penting dari semuanya. Perkembangan kreativitas anak Anda jauh lebih penting dan mahal daripada “sekedar” rumah yang rapi atau bahkan “rasa lelah Anda”. Ingatlah tantangan zaman selalu berbeda. Tantangan pada masa anak-anak Anda dewasa bisa jadi sangat berbeda dengan masa Anda hidup saat ini. Oleh karena itu karakter kreatif sangat dibutuhkan anak agar bisa selalu adaptif dengan perubahan dan sukses di masa depan. Ketika anak “selalu bergerak”, membuat sesuatu, mencipta sesuatu, maka ia sedang mengasah karakter kreatifnya. Jadi jangan cegah ia melakukan itu semua. Jadikan rumah Anda KANVAS KREATIVITASNYA. Percayalah, semua itu akan terbayar kelak di masa depan.

4. Ajari Anak Soal Bertanggung Jawab

Jika kondisi sudah kondusif, Anda bisa mengajaknya berdialog dan mengajarkannya soal tanggung jawab. Sehingga di lain hari, selepas bermain, ia akan merapikan mainannya seperti semula. Bisa juga, jalan tengah jika Anda mau mengajarkan anak soal tanggung jawab tanpa mematikan kreativitasnya, Anda sediakan media khusus atau tempat-tempat khusus di mana anak bisa menumpahkan kreativitasnya di sana. Hal ini selain mengasah tanggung jawabnya, juga akan mengajarkan ia soal disiplin dan menaati sebuah aturan. Namun sekali lagi ia masih anak kecil, jadi tolong dipahami jika ia belum sempurna dalam menjalankan semua itu.

5. Milikilah Sudut Pandang Baru

Ketimbang selalu mengeluh dengan kondisi yang ada, milikilah sebuah sudut pandang baru. Seorang teman pernah mengatakan bahwa anak adalah sebuah nikmat yang sangat luar biasa. Menurutnya, uang 1 milyar pun takkan bisa mengalahkan nikmatnya memiliki anak. Ayah Bunda pikirkanlah bahwa masih banyak pasangan yang ingin memiliki anak, namun sampai bertahun-tahun usia pernikahan belum juga dikaruniai anak. Maka bersyukurlah kita masih diberi Allah swt anak-anak yang lucu, sementara banyak orang sangat menginginkannya namun belum juga mendapatkannya.

Ayah Bunda, Apa Susahnya Memuji?

pujilan anak anda tips parenting ayah bunda anak buah hatiHanya orang tua bodoh yang tak mau memuji anaknya!

Ungkapan di atas sepertinya agak keras, tetapi memang harapannya jadi awareness para orang tua dalam mendidik. Ayah Bunda jangan lupa, anak kita itu masih “kanak-kanak”. Sebagian mereka bahkan usianya belum lagi sepertiga dari umur kita. Jangan pernah samakan kemampuan mereka dengan kemampuan kita.

Pujilah Mereka di Banyak Momen

Pujilah mereka setiap mengalami kemajuan walau sedikit. Pujilah mereka saat membuat karya walau tak begitu bagus. Pujilah mereka saat melakukan hal-hal yang baik. Pujilah mereka saat mau melakukan apa yang kita perintahkan. Dan masih banyak lagi.

Saat anak kita membuat sebuah gambar yang “tidak berbentuk”, setidaknya mereka sudah menghasilkan karya. Jangan samakan hasil gambar mereka dengan gambar kita (padahal bisa jadi gambar hasil kita juga belum tentu lebih bagus). Dengan keterbatasan usia mereka, mereka bisa mencipta seperti itu sudah bagus. Berikan kata-kata, “bagus”, “mantap”, “pintar”, dst. Bahkan saat Anda sedang dipenuhi masalah dan tidak mau diganggu, lalu anak Anda menunjukkan sebuah karya, minimal Anda “memaksakan” diri tersenyum sambil acungkan jempol walau tak keluar sepatah kata pun.

 

Andaikan anak Anda susah makan, lalu suatu saat ia bisa makan lebih banyak dari biasanya, maka pujilah ia. Walau bisa jadi belum sesuai yang Anda harapkan. Jika anak Anda yang tadinya tidak mau merapikan mainan, lalu tiba-tiba mau merapikan mainannnya, pujilah ia. Walau hasil kerjanya masih jauh dari rapi. Jika anak Anda bisa membuat kue, pujilah ia, walau rasanya masih tidak karuan.

Pujian adalah Energi

Pujian adalah energi untuk ia menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Pujian akan membangkitkan motivasinya untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik. Pujian adalah kekuatan untuk merangsang kepercayaan dirinya, sesuatu yang sangat dibutuhkannya di masa depan. Anak yang hidup dari cercaan, bukan pujian, akan jadi anak minder, di masa depan ia justru akan kesulitan membuat sesuatu yang benar, karena selalu takut disalahkan. Anak yang hidup dari pujian akan berani melakukan inovasi, kreativitasnya berkembang dan ia bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Soal hasil yang belum sempurna, Anda bisa memperbaikinya sambil jalan. Anda bisa memberitahu koreksi-koreksinya sambil berbicara santai kepadanya. Yang jelas, Anda harus buat suasana nyaman dulu untuk melakukan koreksi. Semua kemajuan anak tadi harus dihargai, dan penghargaan itu akan membuatnya mau melakukan hal yang lebih baik di masa depan. Koreksi atas kesalahan yang masih ada lebih mudah dilakukan dalam kondisi ini.

Pujian juga merupakan doa, agar anak bisa sesuai dengan apa yang dipujikan. Jika repetisi ini terus dilakukan, akan masuk ke  alam bawah sadarnya bahwa ia seperti itu. Dan insya Allah akan benar-benar terjadi di masa depan. Jadi Ayah Bunda, siap memuji anaknya?

 

Ayah Bunda, Didiklah Anak Perempuanmu dengan Benar

anak sholehah 2 tips parenting buah hati anak bayi ayah bundaSekarang ini candaan di berbagai grup WA atau grup-grup chat messenger lainnya kadang sudah keterlaluan. Bercandaannya bukan lagi pada hal-hal yang layak, tapi sudah mengarah pada “pelecehan”. Sebagiannya sudah “berbau” (maaf) seks. Entah pada dunia nyata terjadi atau tidak, tetapi sepertinya bercandaan itu sudah mulai berbahaya.

Mungkin di media ini bukan hal itu yang akan kita bahas. Tetapi andai Ayah Bunda bergabung dengan salah satu di antara grup-grup itu, Ayah Bunda akan mendapati seringnya foto-foto perempuan ditampilkan sebagai candaan. Hal yang paling sering tentunya, foto perempuan dengan tampilan yang seronok, dengan berbagai pose. Lalu ditertawakan ramai-ramai, atau “dilecehkan” ramai-ramai. Walau pun tentunya itu hanya foto.

Sepertinya pada masa kini hal itu “biasa saja”, apalagi kini era social media di mana semuanya “serba bebas” (baca : serba kebablasan. Kita akan dengan mudah menemukan foto-foto perempuan untuk “cuci mata” (begitu istilahnya) para lelaki yang sedang “sakit” hatinya. Ternyata masalahnya bukan sampai di situ. Kalau tadi yang jadi “bancakan” ramai-ramai adalah foto-foto perempuan cantik bertubuh molek dari berbagai pose, ternyata banyak juga foto perempuan yang (maaf) orang anggap “berparas sangat kurang”, dengan pose yang lucu, jadi bahan tertawaan di grup-grup.

Bagaimana Jika…

Sampai di atas tadi, masalahnya adalah masalah moral. Tapi tahukah Ayah Bunda, masalah yang lebih besar? BAGAIMANA JIKA YANG JADI BERCANDAAN ITU ADALAH ANAK-ANAK PEREMPUAN KITA? Sungguh menyakitkan bukan? Setidaknya bagi orang tua yang masih normal. Melihat foto anak perempuan kita jadi bahan guyonan ribuan orang tentu bukanlah sesuatu yang lucu. Apalagi jika foto anak perempuan yang sudah dewasa itu dijadikan sebagai pemicu-pemicu syahwat.

Perempuan adalah makhluk mulia. Fungsinya sebagai “tiang negara”, penguat sebuah bangsa, selayaknya mendapat tempat yang semestinya. Perempuan adalah ibu bagi peradaban, bukan “sekedar” pemuas kebutuhan seks para lelaki jalang yang selalu mencari mangsa baru untuk memuaskan kebutuhan syahwatnya. Seharusnya ia dihormati selayaknya Rasulullah SAW mengajarkan bahwa nilai seorang ibu 3 kali dari seorang ayah.

Siapa yang Salah?

Lalu dimana salahnya? Ya! Para lelaki itu salah, karena sudah menjadikan perempuan-perempuan itu sebagai pemuas birahi saja. Tetapi tahukah Ayah Bunda, kita orang tua bisa menyumbang saham kesalahan yang tidak sedikit. Andai kita tak mendidik anak perempuan kita dengan benar, lalu mereka bergaul pada lingkungan yang salah sehingga berperilaku salah. Maka akan didapati anak perempuan yang mulai besar tak menganggap salah beberapa hal seperti berpakai serba minim dan seronok, berfoto selfie dengan pakaian yang mengundang syahwat lelaki, hingga naudzubillah mau berhubungan di luar nikah dengan lelaki yang belum jelas segalanya (level keberagamaannya, kehalalannya, loyalitasnya bahkan kemampuan ekonominya).

Foto-foto yang diunggah diinternet dengan pose-pose merangsang itu tentu di upload dengan sengaja. Entah ingin sekedar eksis atau ingin menarik perhatian lelaki lainnya. Walau bisa saja foto-foto itu diambil orang lain, tetapi tentu orang lain tak akan mengambil foto sembarangan kalau tak ada “hal menarik” untuk dieksploitasi. Maka semua benteng itu kembali kepada kita Ayah Bunda. Bagaimana kita membentengi anak kita dengan nilai-nilai terbaik. Dan tak ada nilai terbaik selain nilai-nilai agama.

Jika anak kita terdidik dengan baik. Maka dari cara berpakaian, memilih teman, cara bergaul dst tentu akan baik. Kalau pun lagi “sial” dipotret orang yang tak minta izin sebelumnya lalu diunggah di internet, anak perempuan kita insya Allah akan tampil cantik dengan pakaian taqwanya. Kalau pun dikomentari di banyak grup (karena hal ini sungguh sulit dihindari di era crowd media saat ini), maka kemungkinan anak perempuan tersebut menjadi “tokoh baiknya”. Bahkan bisa jadi menginspirasi banyak orang lainnya.

Semua itu ada di tangan kita Ayah Bunda, akan kita jadikan seperti apa anak perempuan kita. Namun ingatlah, bahwa didikan kita akan menentukan bagaimana ia kelak, bahkan bisa jadi akan menentukan “nasib” kita di akhirat kelak.

 

Bunda, Hati-hati Kalau Bicara!

bunda hati0hati kalau bicara tips parenting ayah bunda ibu anak kecil buah hatiBarangkali masih banyak dari kita yang jika “kesal” pada anak mengeluarkan kata-kata yang kurang baik untuk didengar. Misal “dasar pemalas”, “dasar anak bodoh”, “dasar anak nggak bisa diatur”, dst. Sekilas itu terlihat biasa saja, toh cuma kata-kata. Tapi tahukah Ayah Bunda? Kata-kata seperti itu tidak sesederhana yang kita pikir. Itu adalah doa! Secara psikologis, hal itu juga menjadi semacam “doktrinasi” kepada anak bahwa dia memang seperti itu dan akan jadi seperti itu. Jike repetisi itu tak dihentikan, bisa jadi si anak akan jadi seperti yang kita sebutkan.

Terlebih lagi untuk seorang Bunda. Seorang ibu memiliki kekuatan dalam kata-katanya. Apalagi dalam Islam, seorang ibu bernilai “3 kali” dari seorang ayah. Maka setiap kata-kata yang keluar dari seorang ibu bisa sangat powerful nilainya bagi si anak. Hal ini bisa dijadikan “berita baik” ketika si ibu benar-benar memilih kata-kata terbaik untuk “menjuluki” si anak. Tapi kabar buruk buat ibu-ibu yang tidak bisa menjaga kata-katanya pada si anak. Dan selalu melontarkan kata-kata yang kurang baik pada mereka.

Mungkin sebagian Bunda pernah mendengar kisah ini, suatu saat seorang bocah kecil sedang bermain dengan tanah di luar rumah. Sementara sang Ibu sedang menyiapkan jamuan makan untuk tamu-tamu sang ayah di dalam rumah. Ketika para tamu belum datang, tiba-tiba sang anak masuk ke dalam rumah dan menaburkan debu-debu di atas makanan yang sudah disajikan dengan sangat rapi.

Baca juga : Rahasia anak pintar ternyata sederhana

Bagaimana ekspresi sang ibu? Sang ibu marah besar pada sang anak, tapi lihatlah apa yang diucapkannya : “idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!”

 

Subhanallah, dalam keadaan sangat marah, sang ibu justru mengucapkan doa kebaikan untuk sang anak. Dan tahukan ayah bunda siapa anak itu? Dialah Syaikh Abdurrahman As Sudais, imam Masjidil Haram yang nada tartilnya banyak disukai oleh kaum muslimin sedunia !

Maka Bunda, seberapa pun kesalnya kita dengan tingkah pola anak kita. Berpikirlah dua kali sebelum memberikan hujatan-hujatan keburukan pada si anak. Tahu kah Bunda? Kata-kata Bunda itu “ajaib”, apa yang Bunda ucapkan insya Allah akan terjadi pada si anak. Jangan sampai, justru karena kata-kata kita sendiri, kita menjadi “direpotkan” oleh kelakuan si anak saat dia dewasa. Seorang ibu yang sering “menyumpahi” anaknya dengan kata-kata bodoh, bersiaplah menuai “kebodohan” itu. Seorang ibu yang biasa menyumpahi anaknya dengan kata-kata “pemalas”, bersiaplah saat dewasa mendapatkan kelakuannya yang malas. Dan ini sudah banyak sekali terbukti.

 

Oleh karena itu ucapkanlah kata-kata terbaik setiap hari pada anak kita. Bahkan saat kita sedang marah. Misal, “dasar anak pintar!”. “Dasar anak rajin!”, Dasar anak penurut!”. Mungkin terlihat lucu dan seperti bercanda, bagaimana mungkin kita mengucapkan hal itu padahal saat kejadian, terjadi sebaliknya. Tapi itulah kekuatan kata-kata seorang ibu. Percayalah Bunda, jika Bunda konsisten, “doa” Bunda itu akan terkabul. Tanpa terlalu terapi macam-macam, insya Allah kelakuan buruk anak-anak itu akan berubah dengan sendirinya. Secara psikologis itu juga dimungkinkan. Karena anak sering mendengar kata-kata baik dari ibunya, repetisi itu membentuk semacam doktrin pada anak dan lama kelamaan dirinya akan “menyimpulkan” bahwa itu “benar” sehingga suatu saat itu akan benar-benar terwujud.

 

Jadi Bunda…. Hati-hati ya kalau bicara/ mengucapkan sesuatu untuk anak… Para ayah silahkan ingatkan Bundanya. Tapi sang ayah juga wajib melakukan hal yang sama yaaa…

 

 

Tips Jika Anak Mogok Sekolah

anak tidak mau ke sekolah tips parenting ayah bunda buah hati si kecil anakKadang kitamendapati kondisi anak “mogok sekolah”. Ini bukan dalam konteks hari-hari pertama masuk sekolah. Tetapi kejadian saat sang anak sudah bersekolah beberapa lama, misal 1 atau dua tahun. Sebagai orang tua tentu kita sering kali dibuat kesal oleh kelakuan anak soal ini dan kerap menuduh mereka dengan vonis-vonis semisal pemalas, dll.

Lalu apa yang sebaiknya Ayah Bunda lakukan jika mendapati anak kita mogok sekolah? Beberapa tips berikut ini bisa Anda lakukan :

Tetap Tenang dan Jangan Marah Berlebihan

Tentu hal ini sering membuat kita emosi. Kadang beragam cara sudah dilakukan tetapi anak kita masih saja malas ke sekolah. Namun marah berlebihan juga bukan solusi. Kalau pun ia akhirnya berangkat ke sekolah karena kita marah, maka bisa jadi masalah aslinya belum selesai. Bisa jadi ia hanya ingin “bebas” dari kemarahan Anda, padahal penyebab asli dia mogok sekolah masih ada. Maka tenangkan diri Anda terlebih dahulu seupaya justru tidak kontraproduktif dengan hasilnya.

Berempatilah dan Cari Penyebabnya

Setelah Anda tenang, berusahalan berempati dengan kondisi anak Anda dan carilah penyebabnya. Ingat, mereka masih anak-anak. Sedangkan kita saja yang sudah dewasa kerap “stress” dengan sebuah masalah, tentu mereka juga mengalami hal demikian, apalagi “jam terbang” kehidupan mereka tentu masih jauh. Ajaklah ia bicara dari hati ke hati dalam kondisi tenang.

Tanyakan penyebabnya kenapa ia malas ke sekolah. Ada berbagai kemungkinan yang menyebabkan ia malas ke sekolah, mulai dari ada teman yang jahil, di bully, ada guru yang tidak mengenakkan dalam mengajar hingga kesulitan menangkap pelajaran. Hanya dengan mengetahui penyebabnya Anda bisa memberikan solusi yang tepat.

Perkuat Kemampuan Psikologis Anak

Salah satu cara terbaik adalah dengan memperkuat kemampuan psikologis anak. Sebab dengan begini, Anda akan membekalinya dengan kemampuan menyelesaikan masalahnya sendiri. Misalnya ketika masalah yang dihadapinya adalah bullying, Anda melatihnya untuk berani melawan. Jika masalah yang dihadapinya adalah guru yang tidak baik, Anda melatihnya untuk berani mengajukan keberatan. Jika masalah yang dihadapinya adalah kesulitan menangkap pelajaran, Anda latih tentang “cara belajar” yang efisien serta semangat pantang menyerah. Ingat Ayah Bunda, kata-katanya “melatih”. Artinya beri kesempatan ia berproses dalam mengasah kemampuan psikologisnya tersebut. Beri ia waktu untuk menguasai kemampuan tersebut.

Jadilah Orang Tua yang Supportif

Anak tak selalu bisa langsung berubah. Ia butuh proses, maka jadilah orang tua yang supportif. Orang tua yang menghargai kemajuan anak, walau pun tak banyak. Berilah ia pujian setiap ia bisa selangkah lebih maju menghadapi masalah yang dihadapinya di sekolah. Pujian yang Anda berikan adalah energi untuknya sehingga bisa lebih baik lagi. Support yang Anda berikan jauh lebih berguna daripada sekedar memaksa dia sekolah.

Bicara dengan Pihak Sekolah

Cobalah bicara dengan pihak sekolah atas masalah anak Anda ini. Bisa jadi ada solusi yang bisa di support pihak sekolah. Misalnya jika penyebabnya ada guru yang kurang supportif (dalam kondisi ekstrim), atau bisa jadi ada sekelompok siswa yang sering mengganggu siswa lain dan sudah sering membuat onar. Bantuan pihak ke-3 ini kadang kita butuhkan sebagi support dalam menyelesaikan masalah.